Ini hanyalah sebuah kisah sederhana, sebuah kisah yang tertoreh dalam salah satu pecahan mozaik hidupku. Bukan sebuah kisah klasik memang,jika dibandingkan kisah-kisah penuh makna dari seorang ahli sufi. Tapi kisah ini adalah pelajaran berharga sekaligus jawaban mengapa aku selalu merasa dikecewakan hidup.
Saat itu aku baru turun dari bus setelah pulang sekolah, dalam cuaca yang sangat panas itu yang ada dalam pikiranku hanyalah ingin membeli es kelapa muda untuk melepaskan dahaga. Sambari membayangkan betapa segarnya meneguk segelas es ditengah siang yang sangat terik, kulangkahkan kakiku ke pinggir persimpangan jalan dimana pedagang itu menjajakan dagangannya.
Tiba-tiba langkahku terhenti, kulihat dari kejauhan seorang bocah kecil melangkah gontai seraya mengusap air mata. Kuamati terus bocah itu, Aku penasaran, ada apa dengan anak kecil itu. Setelah sampai dibawah pohon yang cukup rindang, anak itu berhenti lalu duduk masih sambil menangis terisak-isak
Kubalikkan langkahku menuju anak itu. Aku berjalan mendekatinya seraya memperhatikanya lekat-lekat. Ketika aku berdiri tepat didepanya, anak itu memandang wajahku sesata kemudian kembali menangis dengan wajah yang tertunduk. “ ada apa dek?” tanyaku pada bocah itu. Dia tidak mau menjawab, masih tertunduk. “ ada pa dek, mungkin aku bisa membantu?”.tanyaku lagi pada anak itu.
Dia menatapku sesaat. “ Uangku hilang, padahal uang itu ingin aku gunakan untulk membeli buku gambar. Ada PR dari pak guru..”
“Okh… ternyata karna itu, kenapa tidak minta lagi pada orang tuamu, pasti mereka akan memaklumi?” tanyaku pada anak kecil itu.“ ayah dan ibuku sudah pergi ke pabrik. Mereka masuk shift sore jadi pulangnya jam 11.00 malam.” Jawabnya dengan suara terbata-bata.
Bagaimana ini? Uangku sakuku tinggal Rp 3000,00, padahl rencananya ingin aku gunakan untuk beli es kelapa muida. Tapi ya sudahlah, anak ini jauh lebih membutuhkan uangku daripada aku. Begitu kataku dalam hati.Aku serahkan semua uangku yang tersisa untuk anak ini.
Aku kira dengan pengorbananku ini’ dia akan merasa senang dan berterima kash. Tapi aku salah. Dia masih tetap menangis. Aku dengan dengan samar-samar , dia bergumam “ andai saja uangku tidak hilang,pasti aku bisa membeli buku gambar dengan uangku dan main ps dengan uang ini.” Lalu tanpa mengucapkan apapun, bahkan hanya sekedar terima kasih, dia pergi meninggalkanku sambil masih terisak-isak.
Akun tertegun atas peristiwa ini, aku tak menyangka anak itu akan bereaksi demikian. Kenapa anak itu tidak merasa senang karna mendapatkan uang untuk menggantika uangnya yang hilang. Selama perjalanan ke rumah aku masih terbayang-bayang dengan kejadian itu bahkan sampai waktu mau tidur malampun aku masih tetap memikirkanya.
Ternyata kepuasan seseorang tidak bisa diukur dari seberapa banyak hal-hal yang mereka dapatkan karena pada dasarnya kepuasan seseorang hanya bisa dipenuhi apabila keinginan-keinginannya juga terpenuhi.Jadi,cara yang efektif agar kita merasa puas akan apa yang kita dapatkan bukanlah dengan berusaha mendapatkqn apapun yang kita inginkan tapi dengan cara meminimalisir kingginan-keingginan kita.
Pernah kita merasa kecewa karna uang saku yangkita terima perbulan tidak sesuai dengan yang kita harapkan padahal masih banyak teman-teman kita yang uang sakunya lebih rendah dibanding kita. Pernah kita merasa kecewa karna hasil ujian kita tidak seperti yang kita inginkan padahal kita sudah berusaha sekuat mungkin meskipun kita tau bahwa masih banyak teman-teman kita yang nilainya lebih kurang disbanding kita.
Hingga akhirnya kita terlalu sibuk memikirkan keingginan-keingginan kita dan mengabaikan perasaan orang lain disekitar kita. Kita akan selalu merasa kurang dan terus dikecewakan hidup.
Padahal kita akan terus dikecewakan hidup jika kita tidak pernah belajar mensyukuri hidup. Salah satu hal yang sulit dilakukan tapi harus dilakukan adalah menerima apa adanya dan menjadi apa adanya tanpa menghilangkan semangat kita untuk menjadi orang yang lebih baik.




Join The Community